Guru Besar FKIP Unisri Solo Tekankan Pentingnya Pendidikan Karakter untuk Siswa
Guru Besar Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Slamet Riyadi (Unisri) Solo, Siti Supeni, menekankan urgensi penguatan pendidikan karakter sebagai fondasi utama dalam sistem pendidikan.
Menurutnya, kecerdasan intelektual atau kepintaran otak semata tidak akan cukup, bahkan bisa membahayakan masa depan jika tidak diimbangi dengan karakter yang luhur.
“Kecerdasan otak itu tidak akan membahayakan masa depan kalau karakternya baik. Di mana basic karakternya adalah pendidikan agama,” ujar perempuan yang biasa disapa Peni itu kepada Espos, Kamis (14/8/2025).
Menurutnya, siswa yang cerdas secara akademik belum tentu memiliki kecerdasan emosional. Oleh karena itu, pendampingan melalui pendidikan budi pekerti dan keagamaan menjadi krusial untuk menanamkan nilai-nilai untuk siswa.
Peni menjelaskan tujuan utama pendidikan karakter adalah menumbuhkan rasa empati dan tanggung jawab sosial pada siswa. Kecerdasan yang dimiliki seorang siswa seharusnya tidak hanya bermanfaat bagi dirinya sendiri, tetapi juga untuk masyarakat luas.
“Harus ada rasa empati bahwa kecerdasannya bukan untuk dia sendiri, tapi nanti juga untuk mereka yang membutuhkan kepintarannya,” katanya.
Ia mencontohkan, seorang dokter yang berkarakter tidak akan menjadikan profesinya sebagai alat untuk memperkaya diri, melainkan sebagai jalan untuk memberikan pelayanan yang amanah kepada masyarakat.
Lebih lanjut, Peni yang juga anggota Dewan Pendidikan Kota Solo mengatakan penguatan karakter di sekolah dapat menjadi solusi untuk mengatasi kesenjangan sosial dan potensi arogansi di antara siswa.
“Karakter mentalnya harus diberikan agar mereka tidak menjadi anak yang sombong, egois, atau merasa the best. Perasaan seperti itu harus dieliminasi,” katanya.
Untuk mewujudkannya, Peni menyarankan beberapa pendekatan praktis di lingkungan sekolah. Salah satunya adalah dengan membaurkan siswa dari berbagai jurusan dalam kegiatan di luar kelas, seperti pentas seni atau kegiatan kukurikuler lainnya, untuk membangun rasa kebersamaan.
Selain itu, ia memuji sekolah yang menerapkan program pembinaan karakter melalui kegiatan keagamaan, seperti salat zuhur berjamaah yang disertai kultum bagi yang muslim. Serta kegiatan keagamaan lain sesuai kepercayaan masing-masing.
Menurutnya kegiatan semacam ini efektif untuk membangun kesetaraan dan menghilangkan rasa rendah diri di antara siswa dengan latar belakang yang beragam.
“Pendidikan karakter penting untuk dibangun di sekolah-sekolah. Sentuhan emosional dan sosial ini adalah fondasi berdirinya karakter,” katanya.
